Friday, October 16, 2015

Perbedaan LRT, KRL dan MRT


Light Rail Transit (LRT) adalah salah satu transportasi publik yang tengah disiapkan pemerintah. Transportasi ini diharapkan nantinya bisa menjadi pilihan transportasi umum bagi masyarakat. Meski keberadaannya sering disamakan dengan KRL atau MRT, faktanya tidak semua selalu sama.

Sudah lebih dari satu bulan, proyek pembangunan LRT telah dimulai. Pemerintah lebih memilih mengerjakan proyek ini karena nantinya akan menjadi pilihan transportasi masal perkotaan sehari-hari yang bisa mengurai kemacetan Ibu Kota dan sekitarnya. Proyek ini ditragetkan selesai pada awal 2018.

Jika dilihat sekilas, LRT memang tidak jauh berbeda dengan krl dan MRT. LRT sendiri merupakan moda transportasi berbasis rel. Ketiganya sama-sama digerakan oleh aliran listrik.




Dikutip dari Kompas.com, Ahok mengatakan jenis rel yang akan digunakan oleh LRT adalah rel berukuran 1067 milimeter. Ukuran ini sama dengan yang saat ini digunakan oleh KRL dan nantinya juga akan oleh MRT.

Meski memiliki kesamaan, ketiganya juga mempunyai perbedaan.

Salah satunya dalam jumlah mengangkut penumpang. Kapasitas LRT dinilai lebih kecil dari MRT ataupun KRL. Setiap rangkaian kereta hanya bisa mengangkut maksimal 628 orang penumpang karena dalam satu rangkaian LRT terdiri atas maksimal tiga kereta. 

Lainnya, MRT terdiri dari maksimal enam kereta dan dapat mengangkut sekitar 1.950 penumpang. Untuk daya angkut KRL sendiri yang setiap rangkaian keretanya (terdiri dari 8 hingga 10 kereta) sanggup mengangkut 2.000 penumpang.


Hal yang membedakan lainnya, yakni mengenai perlintasan. Untuk LRT akan ada enam koridor LRT yang ditargetkan. Rute tersebut adalah Cibubur-Cawang,  Bekasi Timur-Cawang, Cawang-Dukuh Atas, Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, dan  Palmerah-Grogol. Semua perlintasan itu direncanakan dibangun dengan jalur layang.

Lain lagi dengan  perlintasan MRT yang dibangun dalam dua jenis, yakni layang dan bawah tanah. Proyek pembangunan tahap satu MRT di Jakarta akan menyelesaikan rute Lebak Bulus-Sisingamangaraja-Bundaran HI. Perlintasan Lebak Bulus-Sisingamangaraja merupakan jalur layang, sedangkan Sisingamangaraja-Bundaran HI merupakan jalur bawah tanah.

Jalur layang maupun jalur bawah tanah ini tidak akan bersinggungan dengan jalan raya (perlintasan sebidang).  Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Muhammad Nasyir pernah mengatakan, jenis perlintasan berpengaruh besar terhadap jarak kedatangan antarrangkaian kereta di stasiun. Jika tidak ada perlintasan sebidang akan membuat kedatangan rangkaian kereta bisa dilakukan sesering mungkin.

"Karena tidak ada perlintasan sebidang, pelayanannya jadi lebih cepat. Nantinya kereta akan tiba di stasiun per 5 menit," kata Nasyir.

Berbeda dengan KRL yang mempunyai jarak antarkereta lebih lama karena hampir semua rute KRL merupakan jalur di atas tanah. Akibatnya banyak perlitasan sebidang.  Satu-satunya jalur KRL yang tidak memiliki perlintasan sebidang adalah jalur antara Manggarai-Jakarta Kota. Jalur ini merupakan jalur layang. 

Sunday, September 6, 2015

Saturday, September 5, 2015

Alasan Mengapa Bisnis Anda Tidak Kunjung Laku Di Pasaran


Menjadi seorang pengusaha bukan hal yang mudah. Usaha yang kita jalani juga tidak selalu berjalan ‘mulus’. Ada masa ketika mendapat untung, ada pula kedapatan rugi. Namun, bagaimana jika usaha yang sudah lama dilakoni tetapi tidak kunjung laku di pasar?

Setiap kesuksesan pasti ada proses yang harus dilalui, seperti kata pepatah “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian”. Tidak ada sesuatu yang instan. Mi kemasan pun harus dimasak dahulu sebelum dimakan.

Lain lagi halnya dengan yang sudah membuka bisnis lama, tetapi usaha tidak kunjung berkembang atau malah bangkrut. Tidak sedikit pengusaha yang mengalami hal tersebut. Pasti ada sesuatu yang salah dengan bisnis Anda. Ada beberapa alasan mengapa usaha Anda tidak kunjung sukses.

1. Salah target pasar


Banyak dari pengusaha yang lupa memikirkan target pasar. Akhirnya kita buang-buang waktu jual ke orang yang salah, sementara orang yang memang butuh tidak tahu keberadaan kita dan tidak tertarik. Solusi sebelum ini terjadi, Anda harus mengetahui  ”siapa ya yang kira-kira butuh produk/jasa”.

2. Produk tidak memberi solusi atau manfaat


Satu-satunya alasan kenapa seseorang membeli sesuatu karena mereka menginginkan dirinya akan jadi lebih baik dari sebelumnya. Zaman sekarang memang banyak produk- produk inovatif yang beda dari produk lain, tetapi sayangnya produk ini cuma menang  “menarik”. Untuk manfaatnya sendiri kurang terasa pada konsumen. Faktanya, konsumen memang ‘melirik’ pada hal yang menarik tetapi juga tetap memperhatikan aspek manfaat dan kebutuhan dari produk yang mereka beli.

3. Tidak bisa dipercaya


Kepercayaan adalah faktor penting dalam segala hal, seperti berbisnis. Tentunya membuat orang percaya tidak semudah membalikan telapak tangan.  Cara yang dilakukan juga bukan dengan teriak “saya bukan penipu!”. Salah satu cara membuat orang percaya adalah dengan desain kemasan. Anda bisa mengemas produk dengan menampilkan hal-hal penting. Misalnya, jika Anda berbisnis makanan. Anda bisa melampilkan nomor BPOM atau label halal di kemasan. Hal ini bisa menambah kepercayaan konsumen karena hal yang pertama dilihat konsumen adalah kemasan.

4. Tidak suka caranya menjual


Setiap penjual mempuyai cara berdagang yang berbeda-beda. Hindari sikap agresif dalam berbisnis, bukannya malah tertarik, konsumen malah merasa risih kepada kita.  Cara menjual yang baik di zaman sekarang bisa melalui hal positif. Bukan hanya sekadar menjual saja.

Friday, August 28, 2015

Ini Asal-Usul dan Makna dari Lomba 17-an




“Tujuh belas Agustus tahun ’45, inilah hari kemerdekaan kita. Hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka ....!!”

Bulan Agustus menjadi bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Berbagai kegiatan digelar untuk menyemarakkannya. Kurang lengkap rasanya jika momen 17an tanpa diisi dengan kegiatan lomba. Mulai dari tingkat RT hingga tingkat nasional. Namun, tahukah Anda dari mana tradisi lomba Agustusan berasal? Lalu apa makna dari perlombaan itu?

Thursday, August 27, 2015

Wednesday, August 26, 2015

Ini Alasan Warna Telur Unggas Berbeda-Beda


Telur diklaim sebagai makanan dengan sumber protein yang tinggi. Ada telur unggas yang berwarna putih, berwarna coklat, bewarna biru, bahkan bewarna putih berbecak hitam, coklat, dan biru. Mengapa telur unggas bisa berbeda-beda?

Pada awalnya seluruh telur berwarna putih. Telur bisa berubah warna karena pengaruh pigmen saat pembuahan pada induk. Hal ini diungkap oleh Jaquie Jacob dari University of Kentucky. Menurutnya, telur bisa berbeda-beda warna karena faktor genetik atau bawaan dari ibunya.

Dikutip dari Kidnesia.com, Proses awal pembuatannya, yakni telur itu dibentuk selama 20 jam di dalam uterus (rahim) unggas. Di uterus, kuning telur dan putih telur dilapisi dengan kulit telur atau bisa juga disebut cangkang.  Lalu cangkang telur ini dilapisi lagi dengan selaput halus untuk melindungi pori – pori telur.

Nah, di uterus pula pewarnaan pada cangkang dimulai. Warna pada cangkang tergantung pigmen yang terdapat pada unggas tersebut. Pigmen ini berasal dari pigmen darah hemoglobin. Pigmen adalah zat dalam sel atau jaringan yang mempunyai warna sendiri

Telur unggas yang sering kita jumpai adalah telur ayam. Telur ayam pada umumnya berwarna coklat. Hal ini dikarenakan ayam mempunyai Pigmen porphyrins  yang dapat membuat cangkang telur menjadi kecoklatan.


Lain lagi dengan telur yang berwarna biru. Telur unggas yang berwarna biru kehijauan, umumnya dihasilkan oleh bebek. Warna biru ini juga dihasilkan oleh pigmen, tetapi tidak sama dengan pigmen yang dimiliki ayam. Telur bebek dipengaruhi oleh pigmen biliverdin  yang membuat telur berwarna biru kehijauan.


Lalu bagaimana dengan telur unggas yang berwarna putih berbercak-bercak hitam, coklat, dan biru? Telur dengan warna seperti itu dimiliki oleh burung puyuh. Warna putih berbercak-bercak hitam, coklat, dan biru itu dipengaruhi oleh perpaduan antara pigmen ooporphyrin dan biliverdin.





Artikel ini sudah diterbitkan di BekasiUrbanCity.com